Category Archives: Kajian Tematik Islam

  • -
13402277_1712211315698371_2104711981_n

TIGA AMALAN YANG AKAN TETAP MENGALIR KETIKA SUDAH MENINGGAL

Ada sepasang suami istri yang alhamdulillah sangat kaya dan juga shaleh.

Mereka berulangkali berhaji. Setiap tahun juga mereka melakukan umrah. Berapa banyak harta yang mereka habiskan untuk Haji dan Umrah.

Seorang ulama berkata bahwa amal mereka itu bagus dan mendapat pahala. Hanya saja, jika mereka sudah meninggal, tentu mereka tak bisa melakukan Haji dan Umrah lagi. Pahalanya pun berhenti mengalir.

Nah, maukah saya beritahu amal-amal yang pahalanya akan terus mengalir meski bapak ibu sudah meninggal dunia? Ini dia:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Allah memberi ganjaran sekecil apa pun amal yang kita perbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” [An Nisaa’ 40]

Setiap kebaikan yang kita lakukan mulai dari kewajiban seperti sholat, puasa, zakat hingga amal yang sunnah insya Allah akan dibalas Allah pahala yang berlipat ganda.

Bahkan ada orang yang karena mampu setiap tahun pergi berhaji atau umrah dengan berharap mendapat pahala yang besar. Sesungguhnya itu baik. Namun sayangnya saat kita meninggal, kita tidak akan mendapat pahala itu lagi. Saat kita mati, terputus amal kita selain 3 amal yang di atas.

Oleh karena itu agar pahala kita terus mengalir meski kita telah tiada, hendaknya kita berusaha mengerjakan 3 amal yang di atas. Bagaimana pun kita tidak tahu berapa banyak dosa atau maksiyat yang telah kita perbuat. Berapa banyak orang yang kita sakiti. Jadi kalau pahalanya pas-pasan, bisa jadi akhirnya kita terjerembab ke neraka jahannam.
Sedekah Jariyah

Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu: 1) ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak sholeh, 3) sedekah jariyah (wakaf), 4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5) mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an, 6) berjuang dan membela tanah air, 7) membuat sumur, 8) membuat irigasi, 9) membangun tempat penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar.

Itu hanya contoh kecil saja. Tentu saja sedekah jariyah tidak terbatas pada hal yang di atas. Segala hal yang bermanfaat yang bisa dinikmati masyarakat umum seperti membangun jalan, jembatan, website atau TV yang bermanfaat insya Allah pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama yang kita bangun itu masih memberikan manfaat.

Menanam pohon mangga atau pohon kurma sehingga buahnya bisa dinikmati atau pun pohon yang rindang seperti pohon Beringin sehingga orang bisa berteduh pun bisa mendapatkan pahala.

Membangun masjid pun pahalanya amat besar dan tetap akan mengalir selama masih ada orang yang memakainya untuk beribadah:

Hadits riwayat Usman bin Affan ra: ”Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. (H.R Bukhari dan Muslim)
Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri terlebih dahulu mengamalkannya. Kemudian kita ajarkan ke orang lain. Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, insya Allah kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada.

Kita bisa menjadi guru, dosen, atau mendirikan sekolah/pesantren sehingga ilmu yang bermanfaat bisa diajarkan ke orang banyak.

Di zaman sekarang ini kita bisa mengajarkan ilmu ke banyak orang sekaligus. Dengan membuat buku yang bermanfaat, kita dapat membayangkan bagaimana kalau ada 1 juta orang yang membaca buku tersebut dan mengamalkannya.

Dengan membuat website yang berisi ilmu yang bermanfaat misalnya website Islam sehingga puluhan ribu orang bisa membaca dan mengamalkan ilmunya, insya Allah juga akan mendapat pahala. Jika ada orang yang meng-copy-paste tulisan anda, jangan sedih. Justru mereka membantu menyebarkan ilmu anda sehingga jika website anda tutup karena anda tidak membayar sewa domain atau hosting, ilmu anda tetap tersebar dan dinikmati orang lain.

Mendirikan TV Islam atau TV Komunitas yang bisa memberikan ilmu yang bermanfaat pun insya Allah akan mendapat pahala.

Bagaimana jika kita bukan orang yang pintar atau ilmu kita cetek? Jangan sedih. Dengan membantu ulama sehingga ilmunya tersebar, membantu penerbitan buku yang bermanfaat, membantu pembuatan dan pemeliharaan website atau TV Islam juga bisa membuat anda ikut mendapat pahala. Karena Allah menghitung setiap amal yang kita lakukan sekecil apa pun amal itu!

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al Maa-idah 2]

Rasulullah saw. bersabda:
عن أبي موسى الأشعري ـ رضي الله عنه ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان ، يشد بعضه بعضاً ، ثم شبك بين أصابعه ، وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة أقبل علينا بوجهه ، فقال : اشفعوا تؤجروا ، ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء ” . رواه البخاري ، ومسلم ، والنسائي

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:

“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i.
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Jadi jika kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah, Allah akan melihatnya.
Anak Soleh yang Mendoakannya

Jika kita punya anak soleh yang mendoakan kita, insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang saleh.

Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.

Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung?

Di situ tidak dijelaskan apakah anak saleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika kita memelihara anak yatim pun kita tetap akan dapat pahala jika mereka jadi anak yang saleh dan mendoakan kita.

Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)

Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat Nabi Muhammad SAW laksana jari telunjuk dengan jari tengah.

Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santuni mereka. Bantu mereka.

 

 


  • -
12973613_918357731596980_7882558160248757542_o

KAJIAN ISLAM TEMATIK

Category : Kajian Tematik Islam , PSDM

Assalamualaikum.. hadir kembali KAJIAN ISLAM TEMATIK (KIT) LDK MT-FUNA setiap Hari Senin Pukul 16.00 di Mushola Al-A’raaf Fapet UB. yuk ajak saudara dan teman2 insha Allah Bermanfaat.

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu Niscaya Allah Memudahkannya ke jalan Menuju surga” (H.R Turmudzi)
#LDK MT-MT-Funa Universitas Brawijaya
#YukNgaji
#BKLDK Malang Raya


  • -
sujud

PENGHAMBAAN TERBAIK

sujud
Hadirin yang Allah muliakan, manusia tidaklah bisa hidup sendiri. Kita akan bergantung satu sama lain dan itu kita akui bersama bahwasanya ada ketergantungan antara diri kita dengan orang lain, baik itu lingkup masyarakat ataupun bernegara, jika kita kerucutkan kepada kehiduan dunia ini dan kita mengamati apa yang ada dalam semesta ini pastilah ada yang menciptakan yaitu Allah SWT dan yang diciptakan mempunyai tugas masing-masing dari apa yang telah Allah ciptakan termasuk diri kita, sudah sepantasnya kita menjadikan diri ini sebagai hamba yang selalu merenungkan kehidupan yang begitu singkat, maka jelaslah kehiupan kita didunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Alqurán surah Az-Dzariat ayat 56 yang artinya : “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” dari ayat ini jelaslah bahwa saat ini tugas kita hanyalah beribadah kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian jelas sudah fungsi dan tujuan kita hidup didunia ini hanyalah untuk beribadah tunduk dan patuh akan aturan Allah, namun lain keadaan saat ii dimana banyak orang berlomba-lomba mengejar kepuasan dunia dan menyibukan diri dengan mengumpulkan harta demi kepuasan semata, inilah salah satu dampak dari sekulerisme yang menjadi panutan dalam mengahapi kehidupan sehingga materi menjadi tujuan yang secara sadar takkan ada habisnya jika terus dikejar selama hidup ini, jika kita bercermin pada tauladan nabi kita yang begitu luarbiasa ketaatan kepada Allah, sampai-sampai tak ada yang menandingi ketaatan kepada Allah selain ada pada diri rasulullah SAW.
Saudaraku…. Mari kita merenung sejenak bahwasanya manusia memiliki siklus kehidupan ysng terus berputar dan itu mutlak terjadi pada diri manusia dimana ada fase dalam hidup yang melekat pada manusia saat didunia, dari mulai kita balita, sampai dengan tua rentah semuanya terjadi dan melekat pada manusia, ibaratnya suatu benda memiliki masa tertentu dan fungsi masng-masing.
Berikut adalah kitipan dari Dr. Umar al-Asyqar menjelaskan bahwa tujuan dari pada hidup manusia ialah beribadah, yaitu badah setiap mukallaf hanya berujung kepada satu tujuan: Allah, bukan yang lain. Setiap amal yang tidak ditujukan kepada Allah tidak akan memiliki nilai apa-apa. Setiap orang yang mempelajari Al-qur’an dan hadits pasti mengetahui bahwa inilah satu-satunya tujuan yang diakui islam. Isi al-qur’an pun sesungguhnya menjelaskan bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Al-qur’an menyebut tujuan ini sebagai ikhlas. Pengertian ikhlas disini bukanlah menghadap kepada Allah dalam satu perbuatan saja. Ikhlas disini adalah ketika seorang mukalaf menghadapkan seluruh perbuatannya kepada Allah semata, bukan kepada yang lain. Seluruh ibadah yang dilakukannya tidak ditujukan kepada malaikat ataupun raja; ia tidak beribadah kepada pohon, batu, matahari atau bulan. Makna ihklas adalah memusatkan seluruh perbuatan hatinhanya kepada Allah, bersesuaian dengan perbuaan-perbuatan lahir.
Ikhlas merupakan ajaran yang menjadi dasar diutusnya semua rasul Allah. Ikhlas adalah pusat dan inti dakwah mereka. Setiap nabi dan rasul dituntut untuk mengajarkan ikhlas kepada umat mereka masing-masing. Allah berfirman: padahala mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus(8)
Setiap rasul menyeru kepada kaumnya : sembahlah Allah tidak ada tuhanmu selain Dia(9) kenyataan ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya :
Dan tidaklah kami utus seorang rasul pun sebelum kamu, kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain aku maka sembahlah aku!(10)
Dan sungguh telah kami utus kepada setiap kaum seorang rasul (untuk menyerukan): “sembahlah Allah dan jauhilh tagut!(11)
Definisi ikhlas yang dikemukakann para ulama tidak berbeda jauh. Intinya adalah menunjukan seluruh ibadah kepada Allah, bukan kepada yang lain. Al-Rghid berkata dalam kitab mufradat: “ikhlas adalah menyingkirkan segala sesuatu selain Allah” .(12)
Abu al-Qasim al-Qusyairi(13) menyatakan bahwa seorang yang ikhlas ialah yang berkeinginan untuk menegkkan hak-hak Allah SWT. Dalam setiap perbuatan ketaatannya. Dengan ketaatannya itu ia ingin mendekatkan diri kepada Allah, bukan kepada yang lain. Ia berbuat bukan untuk makhluk, bukan untuk mendapat pujian manusia, atau sanjungan dari siapa pun satu-satunya yang ia harapkan ialah kedekatan kepada Allah SWT.(14)
Jelaslah sudah bahwa penghambaan hidup ini hanyalah untuk Allah dan akan kembali kembali kepada Allah, sangat disayangkan jika dalam perjalanan hidup ini sangat sedikit waktu yang kita sempatkan untuk bermunajat kepada Allah dan bersimpuh dalam ketaatan kepada-Nya, seringkali banyak waktu yang kita gunakan hanya untuk kegiatan yang sia-sia dan tidak berguna, padahal Allah dalam firman-Nya telah mengingatkan kita agar selalu mengingat kemian dan tempat kembali kita hanyalah kepada allah.
Pasti dalam diri kita pernah bertanya mengapa Allah yang harus kita sembah bukan yang lain(50) ? jawabannya sungguh keliru jika penegasan dan pemantapan keyakinan bahwa Allahlah satu-satunya tujuan hidup manusia, bukan yang lain, dianggap tidak masuk akal dan tidak factual, berikut kitipan dari Dr. Umar al-Asyqar bahwa akal dan hati manusia tidak mungkin menerima begitu saja pemahaman yang tidak dimiliki dasar penalaran yang jelas yang didukung oleh fakta-fakta nyata yang sudah terbukti kebenarannya.
Keyakinan kita harus dibangun di atas landasan yang kokoh, tidak akan goyang ketika di tiup angin, tidak akan remuk ketika diterpa badai. Maka, jika landasannya kuat, keimanan yang dibangun diatasnya pun akan kkokoh, sekokoh karang, bahkan jauh lebih kokoh lagi. Keimanan yang seperti apa, agar iman kita kokoh? Keimanan yang didapat melalui proses berpikir, dengan menggunakan Akal, Mengapa akal, karena : Menurut Imam Syafi’i, kewajiban pertama, ingat pertama kali bagi orang yang mukallaf (orang yang terkena taklif hukum atau sudah baligh), adalah berfikir.” Alasan kedua, karena akal merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk-makhluk Allah yang lain. Misalnya : hewan makan. Manusia juga makan. Tapi, jika hewan, tidak melihat apa yang di makan itu barang2 yang halal atau haram. Sedangkan manusia bisa, babi itu haram, darah itu haram, nasi itu halal. Kenapa tahu, karena akal yang membedakan manusia dengan hewan dan mahkluk yang lainnya.
Mungkin sebagian kalangan akan menolak. Karena bagi mereka, keimanan bukanlah sesuatu yang harus dibahas dengan akal. Keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti. Tidak peduli logika bisa menerimanya atau tidak. Jika iman bertentangan dengan akal, maka akal harus dikalahkan. Begitu kata mereka.
Bahwa keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti dan tak ada keraguan didalamnya, tentu kita sepakat. Masalahnya, bagaimana mungkin kita bisa menemukan pembenaran yang bersifat pasti, jika kita dipaksa meyakini tanpa disertai pembuktian. Kalau keimanan tak perlu pembuktian logis, maka akan sangat banyak bermunculan keyakinan baru yang tidak bisa diterima akal. Dan kita memvonis aliran itu sesat karena tidak bisa diterima akal, apa jadinya jika mereka menjawab dengan jawaban yang sama “Keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti, tak perlu logika bias menerimanya atau tidak” Karena itu, dengan standar yang universal, tentu siapapun akan mengakui keimanan mana yang benar dan keimanan mana yang keliru. Standar universal itu adalah AKAL kita.
Dari kutipan ini kita fahami bahwa Sesuatu yang tidak bisa di lihat belum tentu tidak ada. Contoh : Arus Listrik dan Grafitasi. Apakah kita pernah melihat grafitasi, bahgaimana bentuknya? Tapi, kita tahu bahwa gravitasi itu ada. Dari mana kita tahu bahwa grafitasi ada? Dari : benda-benda yang kita lemparkan ke atas, akan jatuh ke bawah, mengapa bisa jatuh, karena ada gaya grafitasi. Itulah buktinya.
Bahkan ada cerita Rasulullah dengan seorang badwi :
“Bagaimana caramu membuktikan keberadaan Allah” (tanya Nabi)
“Adanya Tahi Unta menunjukkan adanya Unta” (Jawab Lelaki badwi itu dengan lugu)
sangat sedehana. Seseorang beriman berdasarkan taraf berpikirnya, begitupun dalam mengambil permisalan, dia menjadikan kotoran unta sebagai sarana untuk membuktikan keberadaan Allah. Ini bukan sebentuk penghinaan. Memisalkannya dengan kotoran unta adalah sebuah analogi cerdas. Adanya kotoran unta, tentu menujukkan adanya unta itu sendiri. Jejak. Itulah yang bias kita jadikan bukti untuk mengetahui keberadaan sesuatu. bukti Allah itu ada, dari penciptaan Alam Semesta, kehidupan, dan manusia itu.
Allah SWT berfirman :

أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الأرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (TQS. Al-Ghasiyyah;17-20)
kita bisa meneliti secara mendalam tentang ciptan-ciptaanNya. Contohnya Manusia. Antara yang diciptakan pasti memiliki sifat yang berbeda yang Menciptakan.
Coba kita teliti, gimana sifat-sifat dasar manusia. Ada tiga karakter khas manusia yang tidak akan pernah berubah, meski zaman silih berganti. Tiga karakter itu adalah lemah, terbatas, dan tergantung.
Manusia tidak bias menentukan sesuatu apapun atas dirinya, apalagi di luar dirinya. Kita tidak tahu kenapa kita lahir sebagai sseorang laki-laki atau perempuan. Yang kita tahu, kita terlahir seperti ini, tanpa ada kuasa kita menentukannya. Jika untuk menentukan nasib diri kita saja kita tidak bias, apalagi menentukan nasib orang di luar kita? Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia memang lemah?
Manusia juga selalu membutuhkan sesuatu diluar dirinya. Manusia butuh bernafas, ia tergantung pada udara. Manusia butuh makan, ia tergantung pada nasi, buah, dan lainnya. Ini semua menunjukkan ketergantungan manusia pada sesuatu diluar dirinya. Manusia tidak bias hidup tanpa yang lain.
Manusia pun memiliki batas-batas tertentu atas dirinya. Kita tak bias tumbuh melebihi kadar yang ada. Kita tak bias seenaknya menambah atau mengurangi umur kita. Bulu mata kita tumbuh tak pernah melebihi rambut kepala. Begitulah kadar-kada yang ditentukan atas kita. Manusia terbatas.
Karena manusia memiliki sifat dasar lemah, tergantung, dan terbatas. Tidak mungkin ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan. Pencipta itulah yang kita sebut Tuhan. Tuhan tidak boleh memiliki sifat lemah, tergantung, dan terbatas. Karenanya, tidak mungkin kita mengganggap patung itu sebagai Tuhan, manusia sebagai Tuhan.
Tuhan harus Esa. Kenapa Tuhan harus Esa? Jika Tuhan lebih dari satu, berarti dia tergantung, dia masih memerlukan tuhan-tuhan lainnya untuk menciptakan, memelihara, atau memusnahkan manusia. Mungkin ada yang mengklaim bahwa standar ini adalah standar yang tidak fair, karena jelas-jelas Islam mengakui Ke-Esaan Tuhan. Tapi, kalo kita kaji lebih jernih, stndar ini adalah standar universal yang bisa dipertanggung jawabkan. Tuhan harus Esa. Kenapa Tuhan harus Esa? Jika Tuhan lebih dari satu, berarti dia tergantung, dia masih memerlukan tuhan-tuhan lainnya untuk menciptakan, memelihara, atau memusnahkan manusia. Mungkin ada yang mengklaim bahwa standar ini adalah standar yang tidak fair, karena jelas-jelas Islam mengakui Ke-Esaan Tuhan. Tapi, kalo kita kaji lebih jernih, stndar ini adalah standar universal yang bisa dipertanggung jawabkan. demikian lah bahwa tuhan yang wajib kita sembha adalah Allah SWT. Dan utusannya adalah Muhammad SAW sebagai rasulullah
Dengan demikian kita wajib beriman kepada apa yang ada sebelum kehidupan dunia, yaitu Allah SWT; dan kepada kehidupan setelah dunia, yaitu Hari Akhirat. Bila sudah diketahui bahwa penciptaan dan perintah-perintah Allah merupakan pokok pangkal adanya kehidupan dunia, sedangkan perhitungan amal perbuatan manusia atas apa yang dikerjakannya di dunia merupakan mata rantai dengan kehidupan setelah dunia, maka kehidupan dunia ini harus dihubungkan dengan apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Manusia harus terikat dengan hubungan tersebut. Karena itu, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah, dan wajib meyakini bahwa ia akan di-hisab di hari kiamat nanti atas seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia.
Dari penjelasan diatas kita fahami bahwa kehidupan ini adalah milik Allah sdan kita wajib tunduk patuh akan aturan Allah baik berupa larangan dan perintah Allah, dan inilah tujuan kita hidup didunia hanya untuk beribadah kepda Allah SWT


  • -
BcLW8XKCYAAOvK2

Ahklak Rasulullah

kajian-meneladani-rasulullah-saw-ustadzah-halimah-alaydrus-424-l
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki akhlak mulia seperti, sifat pemaaf, penyayang, penyabar, tawadhu, jujur dan sebagainya. Beliau juga sangat menganjurkan agar kaum muslimin berakhlak mulia, seperti sabdanya
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya : “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan ikutilah setiap kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah masyarakat dengan akhlak yang baik.” (H.R. At-Turmudzi).
Banyak sekali riwayat hadits maupun atsar Sahabat yang menceritakan tentang kemuliaan akhlak Rasulullah. Bahkan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ketika ditanya oleh sahabat Hisyam bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu tentang bagaimana akhlak Rasulullah, maka ‘Aisyah berkata: “Bukankah engkau sering membaca Al-Qur’an?”, beliau menjawab: “Ya”, ‘Aisyah berkata: “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an”. (H.R. Muslim).
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah ketika menjelaskan tentang hadits ini, beliau menyatakan bahwa Nabi Muhammad memadukan takwa kepada Allah dan sifat-sifat luhur.
Takwa kepada Allah dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk Allah Ta’ala. Jadi, takwa kepada Allah akan melahirkan cinta seseorang kepada-Nya dan akhlak mulia dapat menarik cinta manusia kepadanya.
Maka perlu bagi setiap muslim yang ingin memiliki akhlak luhur seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, untuk mengetahui beberapa akhlak beliau ketika bermuamalah bersama para sahabatnya.
Pemaaf
Semasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakar As-Siddiq melakukan hijrah ke Madinah, kaum Musyrikin segera menawarkan 100 ekor unta kepada siapa yang dapat membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Suraqahbin Malik bin Jus’ham yang mendengar kabar tersebut segera mencari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Suraqah segera mengejar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari belakang, akan tetapi kudanya tersungkur dua kali dan terjerembab ke tanah.
Namun, untuk kali ketiga ia tersungkur, kudanya terjerumus ke dalam pasir, ia kembali terjerembab. Ketika ingin mengeluarkan kudanya daripada pasir, keluarnya asap berkepul-kepul bagaikan ribut pasir.
Suraqah meminta tolong kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan baginda memberikan satu dokumen yang tertulis di atas sebuah tulang (riwayat lainnya mengatakan di atas sehelai kertas atau serpihan terbikar).
Ia adalah sebagai tanda antara dirinya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apabila berlaku peristiwa pembukaan kota Mekah, Suraqah segera menemui baginda di sebuah tempat di antara Mekah dan Taif. Sahabat baginda segera menolaknya namun baginda membenarkan Suraqah mendekati baginda.
Dari kisah tersebut tergambar jelas bahwa tatkala Suraqah ingin membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia bersama kudanya malah terjerembab ke tanah hingga beberapa kali. Kemudian setelah itu, ia memohon kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam supaya menolongnya.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akhirnya menolong Suraqah serta memaafkan kelakuan Suraqah yang hendak membunuh beliau.
Subhanallah, sungguh mulia akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika beliau ingin dicelakai sekalipun, beliau malah menolongnya. Pada saat beliau dimusuhi, beliau malah memaafkannya.
Penyayang
Imam Al-Bukhari meriwayatkan banyak hadits yang mengisahkan tentang sifat kasih sayang yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan juga menjelaskan sabda-sabda Rasul yang berhubungan dengan perkara ini.
Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ibunda kaum Muslimin, ‘Aisyah yang mengisahkan tentang seorang Arab Badui bernama Al-Aqra bin Habis radhiyallahu ‘anhu, yang datang berkunjung ke Madinah. Ia amat heran melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencium cucu-cucu beliau dan anak-anak para sahabatnya.
Ia berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai sepuluh orang anak, tetapi, tak seorang pun dari mereka yang pernah saya cium”.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya, “Apakah Allah telah mencabut sifat kasihs ayang dari hatimu?”. (H.R. Bukhari).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak ingin para sahabat memiliki perasaan yang kaku dan keras. Menyayangi anak-anak adalah teladan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, agar para pengikutnya berhati lembut dan penyayang.
Namun, tidak selamanya kasih sayang menimbulkan keramahan, keceriaan, senang dan bahagia. Orang dengan perasaan yang lembut seperti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menemukan bahwa kasih sayang seringkali berupa air mata dan kesedihan. Hal tersebut tentu tidak mengurangi keagungan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki keluhuran akhlak yang tiada dimiliki oleh orang lain. Beliau begitu bijaksana dalam mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara menyayangi orang yang lebih muda dari kita, sekalipun itu adalah anak kecil.
Berkaitan dengan sifat kasih sayang, Allah Ta’ala telah menegaskan dalam beberapa ayatnya di antaranya firman-Nya :
وَإِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِين
Artinya : “…Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raf [7] : 56).
Meski Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia pilihan yang selalu dijaga gerak dan langkahnya oleh sang Khalik. Namun Allah tetap memerintahkan Nabi-Nya untuk tetap tawadhu dan menyebarkan kasih sayang.
Allah Ta’ala berfirman:
وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ …
“…Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Hijr [15] : 88).
Ada kisah menarik lainnya, diriwayatkan bahwa suatu ketika salah seorang sahabat terlambat datang ke Majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . Karena terlambat, sehingga sahabat ini tidak mendapatkan tempat duduk, kemudian ia minta izin untuk mendapat tempat, akan tetapi para sahabat yang lain tak mau memberinya tempat.
Di tengah kebingungannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memanggilnya untuk duduk di dekatnya. Tidak berhenti sampai di situ, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melipat sorbannya kemudian diberikan kepada sahabat tersebut untuk dijadikan tampat duduk.
Jadilah sahabat tersebut berlinangan air mata menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . Lihatlah bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghargainya sampai-sampai sahabatnya menangis karena terharu.
Jika kita perhatikan, maka akan sangat jelas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memiliki jiwa kepedulian terhadap manusia, beliau tidak memandang status sosial seseorang, apakah dia orang kaya atau bahkan jika orang tersebut dari kalangan dhu’afa sekalipun.
Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury mencantumkan didalam kitab sejarahnya Ar Rahiq Al-Mahtum beliau menceritakan bahwa seorang muslimah tengah berbelanja di pasar bani Qainuqa’.
Orang-orang Yahudi memintanya agar ia menyingkapkan jilbabnya. Tentu saja wanita itu menolaknya, maka salah seorang di antara mereka mengikatkan ujung jilbab muslimah tersebut tanpa sepengetahuannya. Sehingga tatkala wanita itu berdiri, tersingkaplah auratnya diiringi gelak tawa bani Qainuqa’.
Wanita tersebut berteriak, kemudian salah seorang sahabat datang dan langsung membunuh pelakunya. Tetapi akhirnya sahabat tersebut dikeroyok dan dibunuh kaum yahudi.
Ketika kabar tersebut didengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau segera mengumpulkan pasukan untuk menyerang serta mengepung benteng bani Qainuqa’. Hingga pada akhirnya kaum Yahudi menyerah dan siap mendapatkan hukuman.
Saat seperti inilah Abdullah bin Salul (gembong Munafik) memberikan saran terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk membunuh mereka semua. Namun dengan kemuliaan akhlak dan keluhuran budi pekerti beliau, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menolak usulan tersebut. Kaum Yahudi hanya diusir dari kota Madinah.
Penyabar
Di dalam hadits disebutkan :
-عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam: “Nasihatilah aku”, Nabi bersabda : “Jangan engkau marah –beliau mengulanginya beberapa kali- jangan marah”. (HR. Al-Bukhari)
Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan di dalam kitabnya Syarh Arba’in An Nawawiyyah li ibni Utsaimin tentang makna hadits ini ketika seorang laki-laki meminta wasiat terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, wasiat adalah sebuah pesan yang disampaikan kepada seseorang tentang perkara penting.
Lelaki tersebut meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar beliau memberikan wasiat kepadanya. Maka berliau bersabda, “Janganlah engkau marah.” Nabi tidak menyampaikan wasiat untuk bertakwa, yang dengan wasiat inilah Allah berwasiat kepada umat ini dan dengan wasiat ini pula, Dia berwasiat kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kita.
Beliau menyampaikan agar jangan marah. Yang dimaksud bukanlah melarang dari marah, itu merupakan salah satu tabiat manusia. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah agar dapat menguasai dirimu ketika marah, di mana ia tidak melampiaskan apa yang dituntut oleh kemarahan ini, karena kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh setan ke dalam lubuk hati anak adam.
Karena itu, engkau dapatkan orang yang sedang marah, matanya memerah, urat-uratnya keluar. Bisa jadi, perasaannya menjadi hilang dengan sebab kemarahan itu, sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan.
Bisa jadi akhirnya ia menyesal dengan penyesalan yang mendalam terhadap apa yang terjadi dengan sebab kemarahan itu. Karena itu, nabi berwasiat kepadanya dengan wasiat ini, yaitu wasiat kepadanya dan orang-orang yang keadaannya serupa dengannya.
Tawadhu’
Di dalam kitab Ar Rahiq Al Mahtum dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah didatangi utusan Quraisy, Uthbah bin Rabi’ah. Utusan tersebut berkata kepada Rasulullah, “Wahai keponakanku, engkau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya engkau kehendaki? Jika yang kau kehendaki adalah harta, maka akan kami kumpulkan seluruh kekayaan kami, jika kau inginkan kemuliaan maka akan kami muliakan engkau, jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, maka akan kami carikan obat untukmu, jika kau menginginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa di kota kami”.
Setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendengar ucapan orang musyrik ini, tidak sedikitpun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Uthbah telah menghentikan ucapannya, dengan nada lembut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Sudah selesaikah engkau, wahai Abul Walid?”
“Sudah.” kata Uthbah.
Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca surat Fushilat, ketika sampai pada ayat sajdah, maka beliau bersujud. Sementara itu Uthbah hanya duduk mendengarkan Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Nabi sampai menyelesaikan bacaan dan sujudnya.
Jika kita renungi, bagaimana metode Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyimak perkataan yang diuraikan Uthbah bin Rabi’ah maka kita akan menemukan bahwa beliau memiliki jiwa yang bersih serta akhlak yang begitu indah, bahkan tarhadap lawannya sekalipun Rasulullah masih menunjukan sikap santun beliau.
Jujur
Di dalam hadits disebutkan :
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً
Artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah :“Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (H.R. Muslim).
Sifat mulia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lainnya, dikisahkan bahwa beliau tidak pernah berbohong. Bahkan, ketika beliau masih menjualkan barang dagangan Khadijah, beliau senantiasa menyebutkan dengan jujur modal yang beliau gunakan untuk barang dagangannya kepada pembeli yang akan memberikan lebih atau tidak pada barang yang dibelinya, sehingga pada saat itu beliau dikenal sebagai pedagang atau pebisnis yang jujur.
Di era modern seperti saat ini, mungkin tidak banyak ditemukan pedagang yang jujur seperti Rasulullah.Karena kejujuran beliau, sehingga beliau sangat dikenal baik dalam buku sejarah Eropa maupun umat islam itu sendiri sebagai satu-satunya manusia yang memiliki gelar “Al Amiin”.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallampernah bersabda:
إنما بعثت لاتم مكارم الأخلاق
Artinya : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”.(H.R. Al-Baihaqi dan Al-Hakim).
Benar saja, apa yang beliau sabdakan telah beliau aplikasikan sehingga menjadi suri tauladan yang baik bagi umatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala,
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا
Artinya : “Sesungguhnya telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah itu tauladan yang baik, yaitu bagi orang yang senantiasa mengharapkan (keridhaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat dan banyak berdzikir kepada Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33] : 21).
Sebagai seorang muslim, sudah seyogyanya bagi kita untuk meniru akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga kita bisa merasakan hidup indah bersama ahlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ۬
Artinya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” (Q.S. Al-Qalam [68] : 4).
Sungguh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallamadalah manusia paling mulia, manusia pilihan Allah Ta’ala yang tidak akan pernah kita temukan dalam sejarah kehidupan manusia.
Ini adalah sebuah keuntungan bagi kita sebagai umat manusia, karena memiliki banyak kesamaan antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kita. Beliau bukanlah malaikat, manusia tidak akan bisa meneladanijika beliau berasal dari kalangan malaikat.
Beliau hanyalah seorang manusia biasa, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menolak ajaran yang beliau bawa.
Allah Ta’ala berfirman:

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۟ بَشَرٌ۬ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ۖ
Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa…“. (Q.S. Al-Kahfi [18] : 110).
Semoga kita semua mejadi pribadi yang memiliki akhlak mulia sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam teladankan. Aamiin. (T/P011/P4).


  • -
imageContent (9)

Uwais A-Qarni, Tidak Dikenal Di Bumi Tapi Terkenal Dilangit

imageContent (9)

padada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, dadanya bidang, kulitnya kemerah-merahan, dagunya memanjang ke dada kerena selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, seorang ahli membaca Al Qur’an dan sering menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya sebagai selendang, tiada orang yang menghiraukan, beliau tidak dikenali oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibada dipanggil disuruh masuk syurga, dia akan dipanggil berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin kepadanya untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan syurga tiada yang ketinggalan karena kesolehannya.

Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Dia tidak dikenali masyarakatnya apatah lagi dengan kemiskininan yang dimilikinya, ramai yang suka mentertawakan, mengejek-ejek, dan menuduhnya sebagai tukang mengadu domba, pencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqoha’ di negeri Kuffah, kerana ingin duduk dekat dengannya, telah memberikan hadiah dua helai pakaian kepada Uwais al-Qarni, pemberian hadiah tersebut disambut, namun dikembalikan olehnya seraya berkata:

“Aku khuatir, nanti ada orang yang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tidak punya sanak saudara kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekadar menampung kehidupan sehariannya bersama Si ibu, apabila ada kelebihan, dia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, dia
tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Diceritakan ketika terjadi perang Uhud, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasalam ditimpa kecederaan, dan gigi baginda yang dikasihi patah karena dilempari batu oleh musuh-musuh baginda. Khabar ini akhirnya sampai kepada Uwais. Dia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam, walaupun beliau belum pernah melihatnya.

Hari berganti hari dan musim-musim suka dan gembira terus berlalu, dan kerinduan yang tidak terbendung terhadap Sayyiddina Muhammad Rasulillah membuatkan hasrat hati Uwais al-Qarni untuk bertemu baginda Shollallahu Alaihi Wassalam tidak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya ke dalam hati, bilakah dia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah baginda dari dekat? Tetapi, bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan penjagaannya dan tidak boleh ditingalkan sendirian, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan untuk pergi menziarahi Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam di Madinah. Ibu Uwais, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Si ibu amat memahami perasaan Uwais, lalu berkata:

“Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa baginda, segeralah engkau kembali pulang.”

Dengan rasa gembira dia berkemas untuk berangkat dan tidak lupa untuk menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama beliau bermusafir menemui kekasihnya dan kekasih ALLAH Subhanahu Wa Taala.

Sesudah bersalaman sambil mengucup dahi ibu yang dikasihinya, berangkatlah Uwais menuju ke Madinah dengan jaraknya lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman. Beliau melalui perjalanan yang begitu mencabar, Uwais tidak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir luas yang dapat menyesatkan serta begitu panas di siang hari, dingin malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya susuk baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam yang selama ini dirindukannya.

Apabila Uwais al-Qarni tiba di kota Madinah. Beliau segera menuju ke rumah Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera, Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata baginda Shollallahu Alaihi Wassalam tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh beliau datang untuk menemui insan yang dirinduinya tetapi baginda Shollallahu Alaihi Wassalam tiada di rumah.

Di dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kepulangan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam daripada medan perang. Tetapi, bila pula baginda akan pulang? Sedangkan, masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar dia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lekas pulang”.

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi Muhammad Shollallah Alaihi Wassalam. Uwais akhirnya dengan berat hati memohon izin kepada Sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi Shollallahu Alaihi Wassalam dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Ketika pulang dari perang, Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Dia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam, Sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya terpegun. Menurut Sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam dan orang itu segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua serta uzur sehingga dia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda: “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, dia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Baginda Shollallahu Alaihi Wassalam, memandang kepada Sayyidina Ali r.a. dan Sayyidina Umar r.a. dan bersabda: “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berganti, dan tidak lama kemudian Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam wafat, hingga kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah digantikan dengan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada Sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali r.a. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahawa dia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, mereka berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.

Tiba di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun, Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam. Memang benar! Dia penghuni langit.

Dan ditanya Uwais oleh Sayyidina Umar r.a dan Sayyidina Ali r.a,
“Siapakah nama saudara?”
“Abdullah”, jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabat Rasulullah turut tertawa dan mengatakan: “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?”
Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam bualan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, dia baru dapat bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali r.a. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah:

“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”.
“Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”

Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata:
“Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu, Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.

Segera Uwais menolak dengan santun serta berkata: “Hamba mohon supaya hari ini sahaja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam serta tidak kedengaran beritanya. Tetapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan dibantu oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin taufan bertiup dengan kencang.

Akibatnya, hempasan ombak telah memukul kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang lelaki yang mengenakan selimut berbulu di hadapan kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan solat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.

“Wahai waliyullah, Tolonglah kami!”
Tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,
“Apa yang terjadi?”
“Tidakkah engkau melihat bahawa kapal ini ditiup angin dan dipukul ombak dahsyat?” tanya kami.
“Dekatkanlah diri kalian pada Allah!” katanya.
“Kami telah melakukannya.”
“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim!”

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul. Pada saat itu jumlah kami lima ratus orang lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan kapal kami berserta isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami,
“Tidak mengapa harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.”
“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya kami.
“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya,
“Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”
“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membahagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.
“Ya,” jawab kami.

Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan.

Setibanya di Madinah, kami membahagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal. Beberapa waktu kemudian, tersiar khabar kalau bahawa Uwais al-Qorni telah kembali ke rahmatullah.

Anehnya, pada ketika jenazah Uwais al-Qorni akan dimandikan tiba-tiba ramai orang yang berebut-rebut untuk memandikannya. Dan ketika jenazah Uwais dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafankan, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafankanya. Demikian pula ketika orang hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan jenazah dibawa menuju ke tanah perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “Ketika aku ikut menguruskan jenazahnya hingga aku pulang dari menghantarkan jenazahnya, lalu aku berniat untuk kembali ke tempat kuburnya untuk memberi tanda [batu nisan] pada kuburnya, akan tetapi sudah tidak terlihat bekas kuburannya.” (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.)

Berita kematian Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak perkara-perkara yang menghairankan telah berlaku. Kehadiran ramai orang yang tidak dikenali untuk menguruskan jenazah dan pengembumiannya, sedangkan Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak dia dimandikan sehingga jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ pasti ada orang-orang yang telah bersdia melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling terrtanya-tanya:
“Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenali, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa harta, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala kambing dan unta? Tetapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah yang ramai. Apakah mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk menguruskan jenazah dan pengembumiannya.”

Ketika itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapakah “Uwais al-Qorni”, ternyata dia tidak terkenal di bumi tetapi menjadi terkenal di langit.

Sesuai kata Imam al Hasan al Bashri “Adakalanya seseorang sudah hafal Al Quran, sementara tetangganya tidak mengetahuinya. Adakalanya seseorang memiliki banyak pengetahuan, namun orang-orang tidak merasakannya. Adakalanya seseorang mendirikan shalat yang panjang, sementara di rumahnya ada beberapa orang tamu dan mereka tidak mengetahuinya. Kita mengenal beberapa orang yang melakukan amal shalih secara sembunyi-sembunyi selagi di dunia, namun kemudian pengaruh amalnya itu selalu tampak sepeninggalnya”.

[Dikutip dari http://www.yarjohan.com/2013/11/kisah-pemuda-tidak-terkenal-di-mata_11.html]

 


[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/134527412" params="auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true" width="100%" height="300" iframe="true" /]