BULETIN AL-MUSTANIR_ISRA MI’RAJ MOMENTUM MENUJU ISLAMRAHMATAN LIL ’ALAMIN

  • -
isra-miraj-canada

BULETIN AL-MUSTANIR_ISRA MI’RAJ MOMENTUM MENUJU ISLAMRAHMATAN LIL ’ALAMIN

Category : OPINI

isra-miraj-canada

ISRA MI’RAJ MOMENTUM MENUJU ISLAMRAHMATAN LI’ALAMIN

Salah satu momen penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw. yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj. Menurut riwayat Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya (juz 1, hal. 213), peristiwa Isra’ Mi’raj berlangsung delapan belas bulan sebelum Rasulullah saw. dan kaum muslimin hijrah ke Madinah.

Allah SWT menggambarkan peristiwa ini dengan firman-Nya:

] سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ[

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (TQS. al-Isra’ [17]: 1).

Ujian Keimanan

Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya (juz 1, hal 397) meriwayatkan beragam kemukjizatan yang dialami Rasulullah saw. Diantaranya adalah Buraq yang Beliau jadikan tunggangan selama perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, yakni hewan berwarna putih seperti bighal (peranakan kuda dan keledai) yang memiliki sayap yang langkah kakinya sejauh pandangan mata.

Allah SWT. juga mempertemukan Rasulullah saw. dengan para nabi dan Rasul dan Beliau mengimami mereka. Selain itu Beliau pun diperlihatkan beragam keadaan penghuni neraka dan azab yang mereka derita diantaranya azab kepada pelaku riba, para pezina, dan pemakan harta anak yatim.

Peristiwa Isra’ Mi’raj secara keseluruhan mengokohkan kembali pribadi Nabi saw. setelah menjalani hari-hari yang penuh penderitaan di tahun kesedihan setelah Khadijah ra isteri belau wafat dan paman Beliau Abu Thalib meninggal dunia. Sekaligus Isra’ Mi’raj itu juga menjadi isyarat kemenangan Islam.

Lalu apa makna Isra’ Mi’raj itu bagi kaum muslimin? Dengan indah Ibnu Ishaq menuliskan, “Sungguh pada peristiwa Isra’ yang beliau jalani dan apa yang beliau sebutkan, di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan salah satu bukti kekuasaan Allah. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk, rahmat pengokohan bagi orang yang beriman kepada kekuasaan Allah dan membenarkannya.” (Sirah Ibnu Hisyam, juz 1, hal. 396).

Rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj memang diluar jangkauan akal manusia sehingga sebagian orang yang lemah keimanannya berbalik murtad karenanya. Keadaan ini pun dimanfaatkan kaum musyrik Quraisy untuk menghasut kaum muslimin yang masih bertahan dengan keimanan mereka.

Namun ketika diprovokasi oleh kaum musyrikin soal Isra Miraj, Abu Bakar ra malah mempertanyakan sikap kaum musyrik Quraisy yang masih tetap mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., “Demi Allah, jika itu yang Muhammad katakan, sesungguhnya ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa telah datang kepadanya wahyu dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. Inilah puncak keheranan kalian?”

Setelah itu Abu Bakar mendatangi Rasulullah saw. dan meminta Beliau menjelaskan ciri-ciri Baytul Maqdis. Setelah Nabi saw. menjelaskan dengan lengkap lalu Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi engkau adalah utusan Allah!”. Rasulullah saw. menjawab, “Engkau Abu Bakar adalah ash-shiddîq (yang selalu membenarkan)!”

Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq menunjukkan pribadi mukmin yang teguh imannya di tengah arus opini yang hendak merusak keyakinan umat Islam terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam. Sikap seperti inilah yang selayaknya diteladani oleh kaum muslimin pada hari ini. Tidak goyah keimanannya saat kaum kuffar mencoba menghasut dan menyebarkan provokasi yang menyesatkan. Sedikitpun tidak ada keraguan.

Maka amat kontradiktif dengan kondisi hari ini dimana ajaran Islam justru diragukan oleh sebagian kaum muslimin. Malah bermunculan intelektual, politisi, atau bahkan orang yang disebut ulama yang justru menebarkan keraguan terhadap kebenaran ajaran Islam, bahkan mendiskreditkan agamanya sendiri. Bila dulu kaum musyrik Quraisy yang melakukan provokasi untuk meruntuhkan keimanan kaum muslimin, sekarang justru sebagian tokoh Islam sendiri yang melakukan hal itu.

Bukan sekedar mempropagandakan pemikiran yang destruktif terhadap ajaran Islam, tapi mereka juga mendiskreditkan Islam dan kelompok-kelompok yang ingin menegakkan syariat Islam terus dilakukan. Sebutan ‘radikal’, ‘garis keras’, ‘fundamentalis’, hingga ‘terorisme’, disematkan bagi kelompok-kelompok yang konsisten memperjuangkan Islam.

Meragukan Islam; Menderita!

Allah SWT telah berfirman:

] وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS. al-A’raf [7]: 96).

Allah SWT berjanji bahwa keberkahan dalam berbagai bentuknya akan diberikan kepada penduduk suatu negeri jika mereka beriman dan bertakwa yakni menerapkan syariah Islam secara total di tengah kehidupan mereka. Namun sebaliknya Allah SWT juga memperingatkan :

] وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا… [

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (TQS Thaha [20]: 124)

Imam Ibn Katsir dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm menjelaskan, “yakni menyalahi perintah-Ku dan apa yang telah Aku turunkan kepad rasul-Ku, berpaling darinya, berpura-pura lupa terhadapnya dan mengambil selainnya sebagai petunjuk “maka baginya penghidupan yang sempit” yakni di dunia”.

Sikap istiqamah atau konsisten para sahabat dan kaum muslimin dahulu terhadap ajaran Islam membuahkan kejayaan. Pada masa Khulafaur Rasyidin misalnya, keberkahan telah mereka rasakan dengan amat luar biasa diantaranya dalam bentuk kemakmuran hidup. Di dalam ­al-Bidayah wa an-Nihayah diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab ra. yakni Penerapan Islam secara kaffah mampu melahirkan islam yang Rahmatan Lil’Alamin yang mampu Mensejahterkan Rakyat salah satu contoh nyata yaitu memberikan santunan tunai kepada setiap warganya, bahkan termasuk untuk bayi yang baru lahir. Itu semua adalah keberkahan dan kemakmuran yang dijanjikan Allah SWT. bagi penduduk negeri yang beriman lagi bertakwa.

Sebaliknya, manakala kaum muslimin meragukan apalagi meninggalkan ajaran Islam maka kesengsaraan pun menghantam kehidupan mereka Kondisi inilah yang patut direnungkan oleh umat Islam di negeri ini saat ini. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang berlimpah, ironisnya angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Masih ada sekitar 30 juta orang miskin. Sementara angka pengangguran terbuka ada 7,7 juta (2011) dan setengah penganggur 13,52 juta (2011). Juga masih ada jutaan anak mengalami gizi buruk di tengah masyarakat. Hutang negeri ini pun sangat besar, per akhir April 2012 mencapai Rp 1.903,21 triliun. Bila dihitung, setiap warga Indonesia termasuk bayi yang baru lahir harus menanggung hutang sebesar Rp 7,9 juta rupiah. Masyarakat juga makin sulit mendapatkan rasa aman. Beragam kejahatan mengancam termasuk pembunuhan atau tdak terpeliharanya jiwa (Hifdzu Nafs) oleh Negara. Inilah bukti bahwa  Islam Sebagai Rahmatan Lil Alamin jauh dari umat ini.

Islam Rahmatan Lil Al-alamin

Allah SWT Berfirman :

“Kami Tidak Mengutus Engkau (Muhammad) kecuali untuk Menjadi Rahmat Bagi seluruh Alam” (QS. Al-Anbiya[21] 107)

Makna ayat ini menurut imam asayyitibi dalam kitab Al muafaqot yang dikenal dengan kitab maqoshidu Asyariah  yaitu  tujuan diutusnya Rasulullah saw adalah agar risalahnya menjadi rahmat bagi manusia, maka risalah ini  diurunkan untuk mewujudkan kemaslahatan [ jlb al mashalih] dan Mencegah kemapsadatan [dar’u Al mafasid] Beliau juga menyatakan bahwa   risalah islam itu diturunkan sebagai rahmat dengan ia menjaga  akal [Hifdz al-‘aql], jiwa [Hifdz an-nafs], Agama [Hifdz ad-din], Harta [Hifdz al-mal], kehormatan [Hifdz al-Karamah] keturunan [Hifdz an-nasl] Keamanan {Hifdz al-amm] dan Negara [Hifdz ad-daulah] yang pada hakikatnya merupakan kemaslahatan baik individu dan publik yang mana akan didapatkan dengan penerapan islam secara kaffah.

Karena itu, Kerahmatan islam bagi Alam semesta [Islam Rahmatan Li al-‘alamin] Merupakan konsekuensi logis dari penerapan islam secara kaffah dalm aspek-aspek kehidupan manusia. Bukan islam hanya diambil sebagai simbol,slogan,asesoris dan pelengkap dalam hidup saja, seta saat yang sama juga masyarakat banyak mengambil paham yang bertentangandengan islam

Inilah islam [Rahmatan Li al-‘alamin] yang sesungguhnya. Islam sebagaimana yang diturunkan Allah Oleh Allah SWT kepada nabi-Nya Muhammad SAW.

Sahabat yang Allah Muliakan!

Saat peristiwa Isra’ Mi’raj Abu Bakar digelari oleh Rasul saw sebagia ash-shiddîq dikarenakan pembenaran dan keyakinannya terhadap berita Isra’ Mi’rajnya Rasul saw. Saat ini sikap serupa sikap Abu Bakar ra. itulah yang harus kita tunjukkan dengan meyakini bahwa islam Rahmatan lil Alamin akan terwujud ketika islam diterapkan dalam seluruh aktifitas kehidupan, selain itu Islam yang menghasilkan rahmat adalah yang penerapannya mencakup seluruh syariahnya. Karena itu Allah SWT memerintahkan kita untuk mengambil dan menerapkan Islam secara kâffah, tidak setengah-setengah.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ﴾

Wahai kaum beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

 

Mewujudkan Islâm rahmat[an] li al-‘âlamîn secara riil di tengah kehidupan untuk saat ini dan masa datang, sebagaimana yang telah terbukti pada masa lalu dalam seajarah kaum Muslim, tidak lain adalah membenarkan dan mempercayai Firman Allah SWT serta gigih memperjuangkan islam Secara Kaffah agar terwujud Islam Rahmatan Lil’Alamin. Dengan itu pula keimanan dan ketakwaan penduduk negeri ini bisa diwujudkan sehingga semoga keberkahan  Dan Rahmat akan diturunkan oleh Allah dari Langit dan bumi. Kapan lagi hal itu kita wujudkan jika tidak sekarang? Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

 

HEADLINE:

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Walujanto mengatakan, tahun ini pemerintah berencana menambah utang hingga Rp 134 triliun. Utang tersebut digunakan untuk menutupi defisit anggaran. (republika.co.id, 11/6/2012)

  1. Tragedi Yuyun Ingatkan Kasus Pemerkosaan Sum Kuning. Kasus pemerkosaan terhadap Yuyun (14), pelajar Kelas 2 SMP Negeri 5 Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, kejadian berturut setiap tahun bukti gagalnya perlindungan negara
  2. Negeri ini makin dalam terjebak dalam jerat utang. Jumlah utang per April 2012 tlah mencapai Rp 1.903,21 triliun. Sehingga tiap orang dari rakyat termasuk bayi baru lahir harus menanggung utang Rp 7,96 juta.
  3. Padahal selama tahun 2000-2011 negeri ini sudah membayar utang pokok dan bunganya total mencapai Rp 1.845 triliun tapi utang justru makin bertumpuk. Ironinya masih ada 30,2 juta orang miskin; 7,7 juta penganggur (2011), 13,52 juta (2011) setengah penganggur dan jutaan anak menderita gizi buruk
  4. Sebabnya tidak lain akibat penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme. Karena itu harus dicampakkan secepatnya.

 


[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/tracks/134527412" params="auto_play=true&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true" width="100%" height="300" iframe="true" /]